Gebyok kayu jati sebagai investasi terbaik

Gebyok adalah partisi ruang khas Jawa. Selain berfungsi sebagai pembatas ruang, gebyok jati juga dapat digunakan sebagai hiasan untuk menghias ruang interior yang dilengkapi dengan sebuah pintu di sebuah bangunan.

Gebyok umumnya berbentuk ukiran Jawa dan dibuat dari bahan kayu jati berkualitas tinggi. Jati pernah karena sifat dari kayu jati secara struktural yang kuat dan tahan terhadap cuaca.

Selain ketahanan terhadap kondisi cuaca, kualitas kayu jati bisa dilihat dari warna dan biji-bijian. Semakin padat serat kayu dan kualitas kayu gelap akan lebih tinggi. Berbagai motif ukir gebyok cukup beragam seperti ukiran Jepara, Kudus dan Jawa.

Mulai dari hobinya mengoleksi barang-barang antik termasuk gebyok jati, Yanu Ariansyah Akbar dan istrinya Nina jati Robaniah mulai berburu untuk daerah seperti Blora, Ngawi dan Pacitan. “Awalnya, kami ingin membuka usaha rumah kos dengan bangunan bertema Jawa.

Setelah kami berburu dan mendapatkan gebyok, maka kita dibersihkan dan tergantung di depan rumah. Tanpa diduga tak seorang pun ingin membelinya”, kata Yanu.

Sejak saat itu Yanu dengan istrinya akhirnya memutuskan untuk mencoba untuk membuka gebyok bisnis di Jalan Veteran No 268 Tipes, Solo.

Bisnis ini dimulai pada 2011 bernama Lumbung Gading. Lumbung gading penamaan upaya gebyok mengandung arti tersendiri. Gudang berkonotasi tempat penyimpanan, sedangkan Gading berasal dari pohon Kelapa Gading.

Kelapa Gading adalah jenis pohon-pohon palem berbatang kecil dan kelapa pendek tapi menghasilkan kecil tapi banyak. “Kami ingin usaha kita akan menghasilkan rejeki nomplok dan tidak sedikit membantu banyak orang,” kata Yanu.

Pengelola Ivory Lumbung kreatif tidak hanya menggunakan bahan kayu jati baru, tetapi juga menggunakan kayu jati Daur Ulang (daur ulang).

kayu jati digunakan sebagai gebyok bahan baku terdiri dari tiga jenis kayu jati Perhutani, Kebon Jati dan Sulawesi jati. “Jati kita menggunakan minimal 25 tahun. Hal ini dilakukan untuk menjaga kualitas kayu jati itu sendiri”, kata Yanu.

bahan baku yang diperoleh dari perburuan oleh pemilik sendiri dalam bentuk log atau dari orang-orang yang menjual miliknya langsung gebyok. “Panjang Gebyok biasanya kita keluar dari daerah sendiri dan Solo lokal di Jawa Tengah dan Jawa Timur,” tambah Yanu.

Dalam pembuatan nya gebyok jati terdiri dari beberapa tahap :

Tahap pertama, adalah persiapan bahan baku. Bahan baku dipotong sesuai ukuran. Setelah bahan baku dipotong langkah berikutnya adalah molding (membentuk pola).

Kayu ditarik ke pola yang telah dibuat. Setelah fase molding selesai dan diukir kayu sesuai dengan motif.

Tahap ketiga adalah pengamplasan. Pengamplasan dilakukan lebih dari sekali untuk mendapatkan kelancaran yang sempurna. Pengamplasan pertama pengamplasan pengisi dan pengamplasan koloni.

Tahap terakhir adalah proses finishing. “Untuk finishing cat finishing menggunakan air dan eksterior menyelesaikan melamin. “Finishing pewarnaan metode menggunakan gloss, semi-gloss dan matte”, jelas Yanu.

Untuk motif motif terdiri dari ukiran Kudus, Jawa dan ukiran motif Cina. Perbedaan antara motif Kudus dan Jawa terletak pada ukiran dimensi. Kudus motif ukiran memiliki ketebalan 2,5-4 cm, membentuk ukuran yang lebih kecil, rinci dan bentuk tiga dimensi.

Motif Java memiliki ketebalan lebih tipis dari motif Kudus tetapi membentuk ukiran yang lebih besar dan ornamen berbentuk satu dimensi. kebohongan motif Cina perbedaan yang ditemukan dalam bentuk ornamen ukiran didominasi oleh bentuk-bentuk hewan dan tumbuhan diukir bentuk naga. “Selain desain pembeli sudah tersedia juga dapat membawa desain sendiri,” kata Yanu.

Proses yang diperlukan untuk melakukan gebyok ditentukan dari ukuran dan jenis motif dalam gebyok a. Untuk ukuran standar 120 cm x 270 cm membutuhkan waktu 2 minggu. Untuk mengukur 3m x 270 cm bisa menghabiskan waktu sekitar satu bulan. produk gading Lumbung Gebyok dirancang knock down sehingga memudahkan proses instalasi. Setiap bulan Lumbung Gading dapat bekerja urutan rata-rata dua puluh pesanan gebyok.

Leave a Reply